Kadin Banyuwangi Desak Pemprov Buka Akses BBM Bersubsidi

oleh -716 Dilihat
oleh
banner 468x60

Jakarta, ebcmedia – Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Banyuwangi periode 2019-2024 David Wijaya akan mengkonsolidasi berbagai sumber daya perkoperasian, usaha mikro, usaha kecil dan menengah (UMKM) termasuk pemberdayaan masyarakat nelayan pesisir pantai di kec. Muncar.

Program kerja yang masih terus berjalan, salah satunya akses bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk nelayan kecil.

“Kuota BBM bersubsidi untuk nelayan (di Banyuwangi) masih belum dikembalikan kepada kami, masih stuck di provinsi Jatim (Jawa Timur). Ini (persoalan) yang saya mau tarik (tangani),” David Wijaya mengatakan kepada Redaksi.

Upaya membuka akses BBM bersubsidi juga bukan persoalan mudah. Sehingga, koperasi diharapkan bisa membantu akses ketika Pemprov Jatim sudah mencairkan BBM bersubsidi. Secara simultan, nelayan yang sudah menikmati BBM bersubsidi juga diharapkan membayar retribusi. Dengan retribusi, nelayan dan Kadin juga bisa kembali mengaktifkan koperasi simpan pinjam uang.

Selama ini, nelayan sering meminjam uang dari tengkulak dan pengepul. Sebagian dari mereka tidak bisa mengembalikan pinjaman.

“Penarikan retribusi belum maksimal. Subsidi dan retribusi harus paralel. Mereka beli BBM bersubsidi, berarti mereka menangkap ikan. koperasi bagus, lalu sempat mati, sekarang saya mau berdayakan lagi. Saya benahi, termasuk kegiatan rapat tahunan anggota,” kata pria kelahiran tahun 1975 tersebut.


Kinerja koperasi ditentukan oleh partisipasi semua pihak yang tergabung di dalam koperasi yaitu: pengurus, pengawas, anggota. Kualitas partisipasi seluruh elemen yang tergabung dalam koperasi sangat ditentukan oleh kompetensinya, yaitu keterampilan, pengetahuan, motivasi dan lain sebagainya.

Sehingga Kadin akan mengordinasi beberapa perusahaan pengalengan ikan sarden di Banyuwangi, termasuk kec. Muncar untuk bantu nelayan di pesisir.

“Kita perlu menjaga kerjasama, termasuk perusahaan saya bisa ambil semua (hasil tangkapan) nelayan. (pembelian ikan hasil tangkapan) bukan hanya nelayan yang selama ini berlangganan (jual beli) dengan perusahaan saya (PT Sumber Yala Samudera), tapi merangkul semua nelayan di Banyuwangi,” kata David.

PT Sumber Yala Samudera juga dipastikan melakukan overhaul atau rekondisi mesin-mesin produksi termasuk pengalengan. Secara keseluruhan pembuatan ikan sarden kaleng meliputi: penerimaan, thawing (ikan beku), pengguntingan, pencucian ikan, pengisian dalam kaleng, pemasakan awal ( exhausting ), penirisan, pengisian media, penutupan kaleng, pencucian kaleng, sterilisasi, inkubasi, pengemasan, dan pengiriman.

“Kaleng dulu dan sekarang berbeda. Sehingga teknologi mesinnya juga beda. Kaleng sekarang, ada isi open . Konsumen bisa tarik, tanpa alat buka. Mirip kaleng minuman tapi isi open dan bisa buka semuanya. kami masih hitung keekonomian, menggunakan mesin sortir otomatis atau tenaga manusia,” kata David.

Investasi pada mesin sortir otomatis dan hitungan penggunaan tenaga kerja sedang dipertimbangkan. Proses pemotongan ikan dengan tenaga kerja yang semakin berkurang. Sejak perusahaan berdiri sejak tahun 1967, banyak pekerja yang sudah tua. ternyata, proses regenerasi tidak berjalan efektif. Awalnya perusahaan berdiri, keluarganya lebih mengutamakan padat karya.

Tetapi dari tahun ke tahun, tenaga kerja memilih pekerjaan lain dan berpindah. Sehingga, kegiatan produksi sudah mulai diarahkan pada barang modal (mesin-mesin) dalam proses produksi untuk menekan biaya dan memaksimalkan keuntungan.

“Sekarang capital intensive , karena mau cari tenaga kerja juga susah. Sampai sekarang kami terus buka pasar di pulau Jawa. Pasar masih sangat terbuka tapi kadang terbentur dengan supply ikan. Kalau tidak dapat dari lokal, harus impor (ikan). Kami sangat tergantung alam,” kata David.*** redaksi

No More Posts Available.

No more pages to load.