Sertifikasi & Audit Garlic Powder Efektif, Tapi Masih Harus Uji Laboratorium

oleh -840 Dilihat
oleh
banner 468x60

Jakarta, ebcmediaJiangsu Foodmeritt Biotech Inc. (Indonesian office) meyakini produsen berbagai jenis makanan dan minuman, bahwa sertifikasi dan audit efektif berjalan oleh berbagai lembaga pengkajian pangan di China, sebagaimana syarat untuk ekspor karantina (tumbuhan dan produk tumbuhan).

Foodmeritt (Indonesian office) akan terus update mengenai ketentuan uji lab (bakteri) 2-chloroethanol & ethylene pada produk garlic powder (bawang putih dalam bentuk bubuk) sehingga bisa dipasarkan di Indonesia.

“Kami terus berkoordinasi dengan kantor pusat di Pizhou, Xuzhou City, Jiangsu Province, China,” kepala kantor perwakilan Foodmeritt untuk Indonesia, Freddy mengatakan kepada ebcmedia.

Foodmeritt pernah mempresentasikan garlic powder, tetapi ada ketentuan untuk uji lab (bakteri) 2-chloroethanol & ethylene pada produk garlic powder. Sehingga ia langsung berkoordinasi dengan kepala pabrik Foodmeritt di Jiangsu. Selain, ia meminta fotocopy Sertifikat dan hasil uji lab terkait dengan bebas dari bakteri chloroethanol & Ethylene.

“Produk kami tidak mengandung mikroba atau bakteri tersebut. Memang, sampai sekarang belum ada surat keterangan yang lebih detail. Tapi pihak pabrik juga sudah menginformasikan, bahwa garlic powder kami bebas dari bakteri tersebut,” kata Freddy.

Di tempat berbeda, Konsultan agribisnis Indonesia, Windy menilai ketentuan uji lab terhadap garlic powder Foodmeritt bisa di Indonesia, dan tidak perlu ke luar negeri. Uji lab beberapa perusahaan pangan olahan di Indonesia, salah satunya berafiliasi ke Saraswanti/SIG Laboratory di Bogor.

Menurutnya selama ini, uji lab mikroba/bakteri pada lada, kopi (E.coli, salmonella) atau Ethylene Oxide and 2-Chloroethanol (pada garlic powder) efektif di fasilitas lab PT Saraswanti. Fasilitasnya sudah level internasional. Karena uji lab BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) juga efektif di Saraswanti. Lab milik Pemerintah sebetulnya ada, tapi hasilnya agak lama.

“Mengenai ketentuan uji lab Ethylene & Chloroethanol di Vietnam, mungkin hanya optional,” kata Konsultan tersebut.

Terkait dengan bahan kimia residu, apalagi untuk ekspor – impor, perlu pengecekan kandungan residu, salmonella & E.coli. Mungkin khusus garlic, uji lab terhadap residunya, chloroethanol & ethylene. Kalau salmonella & e-coli, merupakan yang kalau berlebihan, bisa mengganggu pencernaan.

Lalu ada dampaknya ethylene, apalagi permintaan uji lab di Vietnam, masih menjadi pertanyaan.

“Misalkan (produk impor/ekspor) dari Thailand, otomatis, harus uji lab di Thailand dan Indonesia. Impor daging kerbau masuk pasar Indonesia, uji lab di Brazil atau India, dapat sertifikasi halal dari kedua Negara, termasuk karantina. Mengapa harus uji lab di Vietnam? Nggak jelas,” katanya.*** Liu/Sr

No More Posts Available.

No more pages to load.