Ustadz Adi Hidayat Ceritakan Asal-usul ‘Tob Tobi Tob’, Berikut Lirik dan Artinya

oleh -1470 Dilihat
oleh
banner 468x60

Jakarta, ebcmedia – Fenomena viral di media sosial sering kali menghidupkan kembali karya-karya klasik yang mungkin sebelumnya hanya dikenal oleh kalangan tertentu. Salah satu yang belakangan mencuri perhatian adalah syair Sawt Safiri Al-Bulbuli atau yang dikenal dengan ‘Tob Tobi Tob’, yang viral karena ritmenya cepat dan susunan kata yang unik.

Berkat sejumlah kreator di TikTok, banyak orang kini tertarik untuk mencoba melantunkan lagu ini dan menjadikannya tantangan. Namun, di balik kepopulerannya, terdapat kisah menarik yang menyertainya.

Asal-usul Puisi Sawt Safiri Al-Bulbuli (Tob Tobi Tob)

Pendakwah karismatik Ustadz Adi Hidayat menjelaskan, Lagu Tob Tobi Tob merupakan puisi yang berjudul asli “Sawt Safiri Al-Bulbuli” yang artinya Suara Siulan Burung Bulbul. Menurutnya, itu adalah puisi Arab klasik yang dikenal karena ritme cepat dan permainan katanya yang unik.

Ustadz Adi Hidayat menyebut, puisi ini sering dikaitkan dengan al-Asma’i, seorang penyair dan ahli bahasa dari era kekhalifahan Abbasiyah, yang konon menciptakannya untuk menantang Khalifah Abu Ja’far al-Mansur.

Pada masa kejayaan Kekhalifahan Abbasiyah, kata UAH, istana menjadi pusat perkembangan sastra dan ilmu pengetahuan. Khalifah Abu Ja’Far AL Manshur dikenal sebagai penguasa yang gemar mendukung para penyair dan cendekiawan, sering mengadakan pertemuan sastra di istananya di Baghdad. Dalam dunia sastra Arab klasik, nama Abu Ja’far sering dikaitkan dengan kecerdasan luar biasa dalam menghafal. Salah satu kisah yang terkenal menceritakan bagaimana ia memanfaatkan kemampuannya dalam sebuah sayembara syair.

Ustadz Adi Hidayat meceritakan, dalam salah satu pertemuan tersebut, sang khalifah mengajukan tantangan kepada para penyair di istananya untuk menciptakan sebuah syair yang begitu kompleks hingga sulit untuk ditiru atau dihafal oleh para pencatat kerajaan. Namun, dibalik sayembara syair yang ia adakan, ada trik yang digunakan oleh Khalifah Abu Ja’Far Al Manshur. Setiap kali seorang penyair membacakan syairnya, Abu Ja’far segera mengulanginya dengan mengatakan bahwa ia telah mendengar syair tersebut sebelumnya. Dengan kemampuannya menghafal dalam waktu singkat, ia berhasil meyakinkan para peserta bahwa karya mereka bukanlah sesuatu yang orisinal.

Menanggapi tantangan tersebut, lanjut UAH, kemudian Al-Asma’i menciptakan sebuah syair dengan struktur linguistik yang luar biasa rumit, penuh dengan permainan kata, ritme yang cepat, serta irama yang sulit diingat oleh orang biasa. Ketika syair ini dilantunkan di hadapan khalifah dan para pencatat kerajaan, mereka kesulitan untuk mencatatnya secara lengkap karena susunan kata-kata yang sangat unik dan berulang-ulang dengan tempo cepat.

Melihat hal tersebut, Khalifah Abu Ja’Far Al Manshur terkesan dan mengakui kecerdasan serta keunggulan Al-Asma’i dalam seni sastra. Syair tersebut kemudian menjadi terkenal di kalangan sastrawan dan penyair, menandai salah satu puncak keemasan sastra Arab pada masa Abbasiyah. Keunikan dan keindahan syair ini membuatnya terus diwariskan secara lisan maupun tertulis, sehingga tetap lestari hingga zaman modern.

Seiring berjalannya waktu, Sawt Al-Safiri Al-Bulbuli menyebar ke berbagai wilayah dan menjadi bagian dari tradisi sastra Arab. Bahkan, kata UAH, dengan perkembangan teknologi digital dan media sosial, syair ini mengalami kebangkitan kembali dan menjadi viral di berbagai platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube, menarik minat generasi muda terhadap kekayaan sastra klasik Arab. Syair Tob Tobi Tob yang sekarang sedang viral di berbagai platform terkenal kembali setelah dinyanyikan ulang oleh seorang penyanyi bernama Ahmed El Qatane pada 2012 lalu.

UAH mengatakan, syair Tob Tobi Tob bukan sekadar karya sastra, tetapi juga sebuah bukti kejayaan budaya dan intelektual pada masa Kekhalifahan Abbasiyah. Dari tantangan seorang khalifah hingga menjadi warisan abadi dalam dunia sastra, syair ini tetap dikenang sebagai simbol kreativitas dan kejeniusan para penyair klasik Arab.

Makna Lagu

Makna lagu ini bercerita tentang sensasi saat seseorang jatuh cinta. Ada perasaan malu hingga tersipu-sipu ketika perasaan itu hadir menyapa.

Seseorang yang sedang jatuh cinta akan cenderung ingin selalu berpenampilan terbaik ketika akan berjumpa dengan orang yang disukainya. Semua orang akan menyadari hal itu karena penampilan yang ditampilkan olehnya luar biasa.

Usaha seseorang untuk tampil menawan membuat orang-orang di sekitarnya terpana dengan pesonanya. Padahal yang ingin dipikat adalah sang pujaan hati.

Suara burung Bulbul yang digambarkan dalam lagu itu adalah perumpamaan tentang keindahan yang dirasakan di dalam hati seseorang yang sedang jatuh cinta.

Mengutip dari buku Sepuluh Dongeng Binatang oleh John Goodwin (2010:16), konon kicauan burung bulbul adalah yang paling merdu di seluruh dunia.

Siapapun yang jatuh cinta akan merasakan keindahan seperti kicauan burung Bulbul yang ada di terkenal di bumi. Apalagi sosok yang dikisahkan pada lagu tersebut sedang jatuh cinta dengan sosok penguasa yang luar biasa.

Syair lengkap tob tobi tob beserta artinya

صَوْتُ صَفيرِ البُلْبُلِ هَيَّجَ قَلْبِيَ الثَمِلِالمَاءُ وَالزَّهْرُ مَعَاً مَعَ زَهرِ لَحْظِ المُقَلِ

Showtu shofiril-bulbuli

Hayyaja qolbi ya tsamili

Al-ma’u waz-zahru ma‘a

Ma‘a zahri lahzhil-muqoli

Artinya: Suara siulan burung bulbul menggetarkan hatiku yang mabuk. Air dan bunga bersama dengan keindahan yang tak tertandingi.

وَأَنْتَ يَاسَيِّدَ لِي وَسَيِّدِي وَمَوْلَى لِيفَكَمْ فَكَمْ تَيَّمَنِي غُزَيِّلٌ عَقَيْقَلي

Wa anta ya sayyidali

Wa sayyidi wa mawla li

Fa-kam fa-kam tayyamani

Ghuzayyilun ‘aqoyqoli

Artinya: Dan engkau, wahai tuanku, junjunganku, dan penguasa hatiku. Begitu besar pesona cintamu yang menawan hatiku.

قَطَّفْتُ مِنْ وَجْنَتِهِ مِنْ لَثْمِ وَرْدِ الخَجَلِفَقَالَ لاَ لاَ لاَ ثم لاَ لاَ لاَ وَقَدْ غَدَا مُهَرْوِلِ

Qataftuhu Min Wajnatihi mil latsmi wardil khajali

Faqola la la la la la la Wa qod ghoda muharwili

Artinya: Aku memetik dari pipinya mawar yang tersipu malu. Dia berkata, “Tidak, tidak, tidak, karena esok aku akan bergegas pergi”.

وَالخُودُ مَالَتْ طَرَبَاً مِنْ فِعْلِ هَذَا الرَّجُفَوَلْوَلَتْ وَوَلْوَلَتُ وَلي وَلي يَاوَيْلَ لِي

Wal-khudu malat thorobam

Min fa’li hadzar-rojuli

وَالنَّاسُ تَرْجِمْ جَمَلِي فِي السُوقِ بالقُلْقُلَلِوَالكُلُّ كَعْكَعْ كَعِكَعْ خَلْفِي وَمِنْ حُوَيْلَلِي

Wan-nasu tarjim jamali

Fi suqi bal-qulqolali

Wa kullu ka’ka’ ka’ka’

Kholfi wa min huwaylali

Artinya: Orang-orang mengomentari keindahanku di pasar dengan kehebohan. Semuanya berceloteh, “keak keak,” di belakangku dan di sekelilingku.

لكِنْ مَشَيتُ هَارِبا مِنْ خَشْيَةِ العَقَنْقِلِيإِلَى لِقَاءِ مَلِكٍ مُعَظَّمٍ مُبَجَّلِ

Lakin masyaytu haribam

Min khosy yati ‘aqonqili

‘Ila liqa’i malikim

Mu‘azh zhomim mubajjali

Artinya: Untuk menemui seorang raja agung yang terhormat. Yang memberiku jubah merah seperti warna darah

يَأْمُرُلِي بِخِلْعَةٍ حَمْرَاءُ كَالدَّمْ دَمَلِيأَجُرُّ فِيهَا مَاشِياً مُبَغْدِدَاً للذيَّلِ

Ya’muru li bikhil‘atin

Hamra’u kad-dam dama li

‘Ajurru fiha masyiam

Mubagdida al lidz-dzayli

أَنَا الأَدِيْبُ الأَلْمَعِي مِنْ حَيِّ أَرْضِ المُوْصِلِنَظَمْتُ قِطَعاً زُخْرِفَتْ يَعْجَزُ عَنْهَا الأَدْبُ لِي

Ana al-adi bul-alma‘i

Min hayyi ardhil-mushili

Naẓhomatu qiṭho‘an zukhrifat

Ya‘jizu ‘anhal-adbu li

أَقُولُ فِي مَطْلَعِهَا صَوْتُ صَفيرِ البُلْبُلِ

Aqulu fī muthla ‘iha

Showtu shofīrl-bulbuli.

(Red)

No More Posts Available.

No more pages to load.