IESR Mendorong Transisi Energi Berkeadilan di Daerah Penghasil Batubara

oleh -1818 Dilihat
Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa dalam Media Dialogue berjudul Transisi Berkeadilan di Daerah Penghasil Batu bara di Indonesia: Studi Kasus Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Paser, di Jakarta, Selasa (21/11).
banner 468x60

Jakarta, ebcmedia.id – Institute for Essential Services Reform mendorong pemerintah untuk berlaku adil dalam memitigasi dampak pelaksanaan transisi energi di daerah penghasil batu bara.

Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa menyatakan pelibatan masyarakat terdampak dengan mengedepankan aspek berkeadilan dalam proses transisi energi menjadi krusial sehingga dapat beralih dari sistem ekonomi padat fosil ke ekonomi yang berkelanjutan.

“Pemerintah perlu memperhatikan fenomena transisi energi di daerah penghasil batu bara agar dampaknya dapat ditanggulangi,” ujar Fabby dalam Media Dialogue berjudul Transisi Berkeadilan di Daerah Penghasil Batu bara di Indonesia: Studi Kasus Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Paser, di Jakarta, Selasa .

Menurut dia, saat ini Indonesia masih memiliki waktu untuk mempersiapkan proses transisi energi, namun waktunya tidak cukup lama.
Jangan sampai saat industri batu bara berakhir, daerah tidak siap untuk melakukan transformasi.

“Pemahaman yang tepat terkait konteks transisi energi di daerah perlu dikuasai oleh pemerintah pusat sehingga dapat melakukan intervensi aktif di daerah penghasil batu bara,” imbuh dia.

Studi tersebut menemukan bahwa daerah penghasil batu bara berpotensi berkontribusi terhadap transisi ekonomi menuju energi bersih.

Baca Juga: Pengakhiran Dini Operasional PLTU Batubara
“Beberapa hal yang menjadi potensi berjalannya transisi energi di antaranya timbulnya kesadaran untuk tidak bergantung pada satu sumber pendapatan daerah saja, seperti hanya pada sektor batu bara, adanya inisiatif perusahaan untuk mengembangkan bisnis di luar batu bara dan Corporate Social Responsibility yang dapat menjadi sumber pendanaan untuk pemberdayaan masyarakat,” ungkap dia.

Namun demikian, potensi tersebut belum dapat optimal karena beberapa hambatan, seperti terbatasnya kewenangan pemerintah daerah, kurangnya kapasitas keuangan, dan kurangnya infrastruktur kesehatan dan pendidikan.

Sebagian besar batu bara yang diproduksi di Paser dan Muara Enim diekspor ke daerah lain dan belum mendorong pengembangan industri di daerah tersebut.
Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Paser, Kalimantan Timur Rusdian Noor berharap agar akselerasi transisi energi di daerah penghasil batu bara diiringi dengan dukungan dari pemerintah pusat untuk investasi dan inovasi teknologi.

Baca Juga: Pentingnya Membangkitkan Energi Positif di Kalangan Generasi Muda dan Santri

“Produk Domestik Regional Bruto Kab Paser per tahun 2022 untuk membiayai pembangunan daerah sekitar 75% dari pendapatan dan disumbang paling besar oleh pertambangan. Transisi energi dengan diversifikasi sektor ekonomi harus mampu memenuhi 75% PDR sehingga kami tidak kehilangan daya dalam melaksanakan pembangunan,” ujar Rusdian.

Senada, Kepala Bappeda Muara Enim, Mat Kasrun mengungkapkan agar pihaknya dilibatkan dalam setiap pembuatan kebijakan terkait transisi energi dan kewenangan pengembangan energi baru dan terbarukan.

Selain itu, ia juga berharap dukungan dari pemerintah pusat seperti diberikan keleluasaan dalam wewenang atau perizinan dalam pengembangan sektor ekonomi baru di daerah. (Dhio)

No More Posts Available.

No more pages to load.